.SWEET LIKE CANDY, FRESH LIKE MINT, WARM LIKE CHOCOLATE, FUN LIKE COLOUR, VALUABLE LIKE GOLD.


19 March 2010

little bout sociology communication

*sebut saja tugas saya yang terbengkalai karna ga jadi dikumpul, daripada ga berguna, mending saya berbagi sedikit ilmu di blog saya.

PERSPEKTIF UMUM: KOMUNIKASI, MEDIA DAN MASYARAKAT

Perspektif Positivistik

Pandangan positivistik timbul atas dasar pandangan seorang Henry Sain Simon (1760-1825) yang kemudian dikembangkan oleh Auguste Comte (1798-1857). Simon dan Comte melihat suatu fenomena yang mencengangkan bahwa manusia di dunia merupakan makhluk yang hanya percaya pada suatu tahayul dan kejadian yang hanya sekedar khayalan metafisika. Comte melihat bahwa hal-hal yang selama ini terjadi dalam kehidupan sosial, merupakan suatu hal yang bergerak atau terjadi atas dasar suatu metafisika dan bersifat empiris. Comte pun membuat gagasan mengenai tiga tahapan perkembangan manusia dalam melihat suatu realitas sosial yang ada. Tiga tahapan tersebut adalah teologi, metafisik, dan positivis.

Tahap pertama berupa teologi. Teologi merupakan suatu tahap yang menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan merupakan suatu konstruksi manusia berdasarkan pada kehendak ilahi. Kepercayaan akan kehendak ilahi inilah yang menimbulkan suatu bentuk animisme, politheisme dan monotheisme. Ketiga bentuk tersebut menjadi suatu hal yang memperlihatkan bahwa manusia hanyalah seorang makhluk yang sekedar percaya pada suatu hal yang bersifat tahayul. Tahap kedua yaitu metafisik. Tahap ini mulai menunjukkan adanya tanda-tanda metafisika. Hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sosial mulai diyakini terjadi karena adanya faktor dorongan berupa metafisika, kejadian-kejadian yang terjadi tersebut menjadi suatu hal simbolik yang didasari dengan berbagai macam faktor. Tahap ketiga adalah positivis. Tahap positivis ini semakin menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sosial bersifat pasti, nyata dan generalisme. Tahap ini meyakini bahwa alam mengandung ilmu pengetahuan yang menjadi faktor pendukung atas terjadinya suatu hal, dalam hal ini teknologi juga mulai menjadi suatu faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu hal. Tahap positivis ini membentuk suatu kejadian yang memiliki tiga sifat umum, yaitu empiris, objektif dan verifikatif. Sesuatu dikatakan empiris apabila kejadian tersebut nyata dan benar-benar ada, fakta yang ada dapat diverifikasi dan hanya memiliki satu kebenaran. Sesuatu dikatakan objektif, apabila sesuatu dapat diinderakan. Dan sesuatu dikatakan verifikatif, apabila sesuatu itu dapat dibuktikan secara empiris. Tentu saja hal positivisme merupakan suatu hal yang bukan hanya sekedar terjadi tanda adanya faktor, melainkan suatu hal yang terjadi secara bertahap dan memiliki suatu latar belakang.

Secara epistimologi, perspektif positivistik menjadi suatu perspektif yang memandang bahwa realitas sosial terjadi atas dasar suatu ilmu pengetahuan dan suatu realitas terjadi atas dasar suatu alasan. Apabila dipandang dari sisi epistemologi tersebut, maka terlihat bahwa perspektif positivistik tidak hanya sekedar mengandung nilai metafisika melainkan juga mengandung nilai objektivitas dan dukungan ilmu pengetahuan. Perspektif positivistik juga menjadi suatu perspektif yang erat dikaitkan dalam suatu hubungan komunikasi. Menurut Deddy Mulyana (2000:58), perspektif positivisme memandang komunikasi sebagai proses sebab akibat, yang mencerminkan pengirim pesan (komunikator) untuk mengubah pengetahuan atau sikap penerima (komunikan). Sebagai contoh, perspektif positivisme dapat diimplementasikan pada teori Agenda Setting yang menyatakan bahwa konstruksi masyarakat dilakukan oleh media melalui efek dari tayangan-tayangan di media tersebut. Dari teori tersebut, maka dapat dilihat bahwa media dijadikan suatu alat yang mendukung terjadinya suatu konstruktivitas pada kehidupan penontonnya, terdapat suatu proses penyampaian dan pengaruh dari tayangan dalam suatu media ke dalam pemikiran penontonnya.

Perspektif Ekonomi Politik

Perspektif ekonomi politik lahir dari pemikiran Marxisme. Marxisme lahir dari konteks masyarakat industri Eropa abad ke-19, dengan semua ketidakadilan, eksploitasi manusia khususnya kelas bahwa / kelas buruh. Eksploitasi ini sering kali menjadi suatu hal yang dianggap biasa bagi penguasa untuk memenuhi kepentingan-kepentingan kelas atas. Struktur yang ada di dalam suatu bidang, sebut saja industri media, mayoritas dipegang oleh kelas atas, sedangkan kelas bawah hanya dijadikan pekerja atau buruh.Penelitian empiris menunjukkan bahwa kepemilikan dan pengendalian industri komunikasi massa dipusatkan di tangan kelompok-kelompok kepentingan yang kuat secara ekonomi maupun finansial yang relatif kecil. Dengan demikian, pemikiran Marxis membatasi hubungan antara kelompok atas dan kelompok bawah, batasan tersebut terlihat jelas dari struktur kerja dalam suatu institusi. Pemikiran tersebut melahirkan suatu perspektif ekonomi politik dalam media komunikasi.

Menurut Palgrave (1917), politik ekonomi dipandang sebagai kombinasi dari kajian relasi negara atau pemerintahan terhadap aktivitas industri individu. Hampir sama dengan pendapar Palgrave, menurut Vincent Mosco (1996), ekonomi politik merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang hubungan sosial khususnya hubungan kekuasaan, yang berkaitan dengan hubungan tentang produksi, distribusi dan konsumsi sumber daya termasuk sumber daya komunikasi. Pada umumnya ekonomi politik merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang hubungan pihak penguasa dengan pihak individu (masyarakat), bagaimana mengontrol dan bertahan dalam kehidupan sosial. Berdasarkan pengertian tersebut, maka saya mengambil suatu kesimpulan bahwa perspektif ekonomi politik merupakan suatu perspektif mengenai keterhubungan pihak tertinggi atau dalam hal ini penguasa dengan pihak individualis, dalam hal ini masyarakat umum, dalam menjalani sesuatu dan mengatur hubungan tersebut. Hubungan antara media dan masyarakat tentu saja tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perspektif ekonomi politik ini.

Secara epistemologi, perspektif ekonomi politik memandang media sebagai suatu sumber daya komunikasi yang dikuasi oleh pihak penguasa yang menyalurkan berbagai aspek dalam kehidupan sosial kepada masyarakat. Media mendistribusikan suatu dampak dan berbagai konten dalam kehidupan sosial kepada masyarakat yang mengkonsumsi suatu media. Hubungan ekonomi politik dalam media tersebut, terlihat dalam struktur dalam institusi media tersebut, siapa yang memegang kendali, siapa yang memegang kuasa media, siapa yang bekerja di media dan siapa yang menjalankan sistem media tersebut. Media sebagai suatu alat komunikasi yang “elit”, tidak dapat melepaskan institusinya dari ekonomi politik, ekonomi suatu media didasarkan pada pihak tertinggi yang seringkali dipegang atau dikuasai oleh penguasa, pihak penguasa seringkali berhubungan dengan perpolitikan, maka dari itu hal inilah yang menghubungkan antara perspektif ekonomi politik dan media sebagai institusi.

Sebagai contoh fenomena dalam media Indonesia saat ini yang berkaitan dengan perspektif ekonomi politik, adalah mulai banyaknya aktor-aktor politik yang memegang sahan bahkan menjadi penguasa tertinggi dalam suatu media. Contohnya saja Metro Tv yang dikuasai oleh Surya Paloh dan juga TvOne yang dikuasai Aburizal Bakrie. Tentu saja hal ini menjadi contoh bagaimana politik tidak dapat dipisahkan dalam ekonomi dalam suatu institusi khususnya media. Kekuasaan pihak tertinggi dalam suatu institusi, dalam hal ini media, memang cenderung dipegang oleh orang-orang politik, hal ini tentu saja untuk mendukung dan mempertahankan institusi media tersebut. Keterkaitan perspektif ekonomi politik dalam media menjadi suatu daya tarik tersendiri, melihat semakin banyaknya institusi media di Indonesia, baik itu cetak maupun elektronik, dan kemungkinan penguasaan institusi media tersebut oleh aktor-aktor politik pun semakin besar. Hal ini tentu saja akan menjadi suatu fenomena tersendiri bagi perpolitikan dan media Indonesia.

Mosco, Vincent. The Political Economy of Communiction, London; SAGE

Publication (1996).


0 comments:

Post a Comment