.SWEET LIKE CANDY, FRESH LIKE MINT, WARM LIKE CHOCOLATE, FUN LIKE COLOUR, VALUABLE LIKE GOLD.


29 April 2012

Persamaan yang Berbeda

Saya mau bercerita sedikit tentang apa yang baru saya lewati di sore hari tadi.

Saya sedang berada di sebuah pusat pijat refleksi tubuh di seputaran kota Jogjakarta. Ketika itu, saya memang berniat untuk melakukan treatment body massage. Saya memilih paket body massage 1,5 jam dengan biaya 75.000. Standard menurut saya, melihat tempatnya yang cukup nyaman.

Lalu saya dipijat oleh seorang tukang pijat, sebut saja namanya Katy.... bukan Katy Perry.. *krik. Postur badannya mirip saya, cuma dia agak sedikit lebih kurus dibandingkan body saya yang sekarang agak lebih semok :p
Pijatannya lumayan enak, ga heran sih, karena sebelum masuk ke panti pijat itu pasti para tukang pijat-nya udah ditraining untuk bisa memberikan pijatan yang enak dan nyaman.
Di sela pijat-memijat, saya mengajak mba Katy ngobrol. Pertanyaan saya diawali dengan basa-basi jam buka tempat pijat tersebut. Lalu dia juga menanyakan tempat kuliah saya dan juga asal saya. Obrolan ngalor ngidul itu, sempat terhenti karena saya ketiduran haha.. Gimana ga ketiduran, lha wong tempatnya remang-remang, diiringi alunan musik pelan, sepi, sambil dipijet lagi! Pewe banget di kala kondisi badan yang capek tiada tara..

Ga lama, saya kebangun dan melanjutkan obrolan yang tadi sempat terhenti. Pertanyaan saya selanjutnya adalah tentang pekerjaan si mba Katy itu sendiri di tempat pijat tersebut. Rupanya mba Katy ini udah 8 bulan kerja sebagai tukang pijat di tempat itu. Selama kurang lebih 5 tahun di Jogja, dia udah 8 kali pindah tempat kerja, katanya sih pengen cari pengalaman. Magelang, adalah kota asal dari si mba Katy. Ia sengaja merantau ke Jogja untuk mengadu nasib, yaaaaa untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya mungkin.
Ketika saya bertanya tentang gimana kondisi kerja di tempat tersebut, dia sedikit cuhat colongan ke saya.
 "Di sini ada 34 tukang pijet mba, tapi ga ada shift-shiftan. Ya tiap hari jadi kayak pindang gitu mba di ruangan, sambil nunggu pelanggan yang mau pijat, kita tiduran, nonton tv, ga bisa keluar karena ga dibolehin, jadi kayak di penjara gitu. Untung-untung kalo ada yang mau pijat, kalo engga, ya dari pagi sampe malem ya cuma tiduran nonton tv, nganggur gitu mba."
DEG! Kebayang ga sih.. kalo cuma disuruh nunggu pelanggan sambil nonton tv, tiduran seharian gitu sih, di rumah aja juga bisa, dalem hati saya.
"Terus sistem pembayarannya, per orang yang dipijet apa gimana mba?" tanya saya.
"Per orang yang dipijet mba, jadi dipotong 12% per orang itu bayar. Jadi kalo pijetnya 1 jam ya saya cuma dapet 6.000, kalo kayak mba gini 1,5 jam, saya dapetnya 9.000. Itu juga belom tentu sehari dapet mba. Kadang ga dapet sama sekali karena ga ada yang milih saya buat pijetin."
Hmm.. Memang sih, sistem di pusat pijet itu adalah memilih sendiri tukang pijat dengan menunjuk foto yang ada di meja resepsionis.

Saya prihatin denger curhat colongannya si mba Katy. Kebayang ga sih pemasukan sama pengeluarannya dalam sebulan. Belom untuk bayar kostan, bayar makan, dan kebutuhan lainnya, belom lagi kalo mau ngirimin uang untuk keluarga di kampungnya.

Satu hal yang paling buat saya kaget.
"Umur saya 21 mba, saya cuma tamatan SMP.."
DEG! DEG! DEG! DEG!
UMURNYA SAMA DENGAN SAYA!

"Mba umurnya berapa?" | "21 mba" | "wah.. sama dong" | "mba kelahiran 91 juga ya?" | "oh engga saya 90 mba" | *menghela nafas* *fiuh ternyata beda tahun* | *hening*

Seketika saya diem.. kebayang ga sih.. di umur yang sama, dengan nasib yang berbeda, kami berdua berada di satu ruangan yang sama, yang satu melayani, yang satu dilayani :(
Allah bener-bener nunjukkin betapa saya harus banyak bersyukur.

Obrolan di tempat pijat itu memberikan saya ilmu. Iya, ilmu untuk 'berkaca diri'. Saya ga tau apa yang dirasain sama si mba Katy tentang obrolan saya dengannya, mungkin ia merasa Tuhan ga adil atau juga mungkin ia merasa Tuhan memberikan cobaan untuknya agar ia kuat. Tapi saya.... speechless.
Waktu saya tau umurnya sama dengan saya, saya kircep di detik itu juga.

Di sini, Allah SWT bener-bener nunjukin betapa saya harus selalu bersyukur dengan apapun yang ada di hidup saya. Rezeki, cobaan, musibah semuanya ada hikmah, dan saya harus bisa mensyukuri semuanya.

Semoga si mba Katy yang pijetannya lumayan ngilangin encok, bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, atau mungkin bisa bikin usaha panti pijat dengan fasilitas plus (bukan plus-plus) yang sukses di kota asalnya.
God bless you mba Katy!

21 April 2012

Up to 20!

Waaaaaawwwwww 21! Akhirnya umur saya 21! Yihaaaaaa finally up to 20!

Iya, tanggal 18 April kemarin saya baru saja menginjakkan hidup saya di umur ke-21.
Artinya udah lebih dari 1/5 abad saya hidup di dunia ini. Ga ada kata lain selain ucapan Alhamdulillah untuk mengawali hari itu.

Saya bersyukur masih banyak orang-orang yang perhatian dan sayang sama saya. Mereka ga segan untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun dan menyisihkan sedikit waktu mereka untuk mendoakan saya. Terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada mereka.

Hidup ini ga akan lebih berharga, selain ditemani dengan orang-orang yang baik dan peduli di sekitar kita.
Terima kasih banyak untuk keluarga saya, para sahabat, teman-teman dan semuanya untuk doa dan ucapan yang diberikan baik secara langsung maupun via BBM, SMS, telpon, facebook, twitter dan lain-lain. Terima kasih banyak semuanya.

Terima kasih ya Allah untuk umur 21 dan kehidupan 20 tahun sebelumnya yang berkesan. Semoga di umur yang baru saya bisa membanggakan ibu dan bapak saya dengan gelar di belakang nama saya. Amiiiiin...

:D

Salahkah saya?

Kadang saya suka bertanya pada diri saya sendiri.
Salahkah saya memiliki keluarga dengan kondisi berkecukupan?
Salahkah saya menaiki motor atau mobil, sedangkan di luar sana ada ibu atau bapak yang menggowes sepeda bututnya?
Salahkah saya memiliki rumah dan kamar yang luas, sedangkan di luar sana ada ibu atau bapak yang hanya beralaskan tanah dengan dinding kardus sebagai rumahnya?
Salahkah saya duduk di sebuah cafe sambil menikmati secangkir cokelat hangat, sedangkan di luar sana ada anak kecil mengais botol plastik di kotak sampah?
Salahkah saya menenteng tas belanjaan dari sebuah mall, sedangkan di luar sana ada ibu tua yang hanya menggendong tas hasil memulungnya seharian?
Salahkah saya tidur di kamar dengan kasur empuk dan udara sejuk dari kipas angin atau AC di siang hari, sedangkan di luar sana ada sekelompok orang berjualan koran di siang hari yang panas?
Salahkah saya?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul di benak saya. Mengapa Tuhan tidak menciptakan manusia dengan derajat yang sama? Minimal dengan keadaan sosial yang sama. Atau minimal lagi dalam kondisi serendah-rendahnya hidup sederhana.
Mengapa harus ada kata "miskin" di dunia ini?

Kadang saya berpikir, apakah saya seorang perempuan yang baru berusia 21 tahun pantas duduk di sebuah mobil ber-AC, sedangkan di sebelah saya ada seorang bapak tua keriput menaiki sepeda ontelnya. Apakah itu cukup adil?
Jujur, saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri.

Tapi, apa sih yang bisa saya lakukan selain membantu mereka dalam bentuk menyumbang. Paling tidak saya hanya bisa menyisihkan sedikit uang jajan saya untuk diberikan kepada mereka yang memang benar-benar membutuhkan.
Kadang saya berpikir, semua yang saya punya ini adalah rezeki dari Allah. Mereka yang hidup berkekurangan pun pasti memiliki rezekinya sendiri. Tapi kenapa harus ada istilah kaya dan miskin di dunia ini? Kenapa harus ada istilah atas dan bawah di dunia ini? Bukannya semua manusia itu sama di mata Tuhan? Kalau begitu, kenapa manusia harus diciptakan dalam kondisi hidup yang berbeda?

Ah.. pertanyaan itu terlalu sering muncul dalam pikiran saya. Saya iba pada mereka, pada diri saya sendiri juga. Saya belum bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat iba itu menghilang.
Suatu saat saya harus bisa. Harus.

Let's go back..

Wih akhirnya setelah sekian lama ga buka blog, saya punya niat lagi buat buka blog dan mulai menulis. Sempet kaget juga sih dengan tampilan blogspot yang baru haha.. Rupanya saya udah terlalu lama meninggalkan diary ini..

Melihat postingan terakhir di blog, ternyata cerita berseri saya bertajuk Forever Alone In Big City hanya bertahan sampe episode #14 dengan rapelan ya hahahaha..
Yah.. pada intinya kehidupan ForeverAlone saya tersebut berakhir dengan baik, bahagia dan sempurna. Alhamdulillah saya dapet hasil yang ga sia-sia.
Sekali lagi terima kasih kepada Allah SWT yang selalu memudahkan saya. Semoga selalu dimudahkan sampe nanti pake toga :D

Anyway, sebenernya sebelum ini saya udah lama banget pengen bercerita di blog, tapi ternyata hasrat saya untuk "bercerita" di word lebih tinggi (baca:skripsi).
Malem ini saya ga tahan untuk buka blog, there's many stories I wanna tell you, about me, my self, everybody around me, etc.

Semoga semua bisa tertulis dan tertuang di laman ini :)