.SWEET LIKE CANDY, FRESH LIKE MINT, WARM LIKE CHOCOLATE, FUN LIKE COLOUR, VALUABLE LIKE GOLD.


28 September 2010

Jealous Isn't "A Jail"

siapa orang di dunia ini yang tidak pernah merasa cemburu?
seorang anak kecil pun bisa cemburu ketika orang tuanya lebih memberikan perhatian ekstra kepada adiknya. demikian pula dengan orang dewasa yang hampir tidak pernah luput dari rasa cemburu.

cemburu karena salah seorang teman lebih sukses?
cemburu melihat bawahan kita naik jabatan di atas kita?
cemburu ketika sahabat jalan bergandengan dengan pacarnya di depan kita?
cemburu dengan prestasi saudara kita yang lebih daripada kita?
dan cemburu-cemburu lainnya.
tentu saja yang lebih sering terjadi adalah cemburu dalam masalah hubungan.

perempuan memiliki sifat ini. jelas! semua perempuan merasakannya. termasuk saya.
cemburu dengan sahabatnya pacar? cemburu dengan fansnya pacar? cemburu dengan mantannya pacar?
wajar. sangat wajar menurut saya.

bahkan saya mengakui bahwa kadar cemburu saya melebihi kapasitas normalnya. haha.
saya memberikan sifat saya ini kepada dia, yang bisa membuat saya takut. takut kehilangannya.
mungkin menjadi masalah ketika pasangan kita tidak menyadari bahwa cemburu menunjukkan ketakutan akan kehilangan.

seorang teman saya memiliki pasangan yang sangat sangat cemburuan, melebihi saya mungkin. bahkan untuk sekedar menyapa teman perempuannya di tempat umum saja, teman saya harus berpikir seribu kali karena tidak ingin pacarnya marah.
semua orang menganggap pacar teman saya ini gila. lebay.
tapi jujur aja, saya mengerti mengapa ia melakukan hal demikian. karena saya pun begitu, meskipun kadar cemburu pacarnya teman saya ini sangatlah over.
tapi saya yakin, pacarnya teman saya ini menyayangi teman saya dengan tulus.

saya ingin menjadi perempuan yang jujur dengan hatinya. berkata tidak apabila memang tidak. berkata iya apabila memang iya. tapi tidak semudah itu untuk mengakui bahwa saya cemburu.
gengsi? mungkin. tapi saya mengakui ketika hal itu dipertanyakan.

tapi semua itu semata hanya karena saya takut, bukan untuk menjadi "penjara" baginya.
my jealous means my afraid.

27 September 2010

girls fact

i love this quote. i found it on my twitter, from @feliciaanjani via @ihatequotes.
i feel like this anyway.

girl is unique, they want you to know how they feel but they don't want to tell you

spent to much tears

tau kenapa airmata bisa dengan begitu mudah keluar? atau tau kenapa airmata juga bisa dengan begitu mudah tertahan dan terbendung?
ntah, saya pun tidak begitu tahu.

berbicara tentang diri saya.
pada awalnya saya bukan termasuk pada wanita cengeng, yang bisa dengan mudah mengeluarkan airmata. saya sensitif, bukan cengeng.
beberapa minggu terakhir, saya harus mengakui bahwa saya cukup sering menangis. berawal dari setetes dua tetes airmata, lalu semakin lama semakin banyak airmata yang saya keluarkan.
mungkin saya hampir tidak tahan dengan keadaan ini, saya capek harus mengeluarkan airmata. taukah kalian, airmata perempuan itu mahal!

dan saya rasa, bukan keputusan yang mudah bagi seorang perempuan untuk merelakan airmatanya. mungkin ketika saya menangis, saya hanya memikirkan apakah hati saya pun harus ikut menangis? tidak. jangan sampai hal itu terjadi.
cukuplah tangisan ini menjadi wadah pelampiasan saya atas apa yang saya rasakan.
bukan berarti menjadi kebiasaan saya.

ntah apa yang akan terjadi, apabila saya sudah tidak bisa mengeluarkan airmata saya. mungkin saya sudah berada di rumah sakit jiwa. jadi gila. (astaghfirlaaah, amit-amit)
bercerita dengan teman bukan lagi menjadi alat pelampiasan saya saat ini.
mungkin menangis dan menyendiri jauh lebih menenangkan bagi saya.
efeknya? seperti karpet panjang yang di bawahnya tersimpan banyak debu, karena setiap masalah hanya saya selesaikan dengan menangis.
apakah itu cukup? tidak!
sayangnya, tidak cukup banyak orang yang menyadari hal ini.

tapi malam ini, saya mulai menyadari, i spent too much tears and i must stop it!
yes. stop it! don't be a weak!
your tears are too expensive to spend. keep it in your eyes and feel it with your heart. JUST with your heart, karla.

(cuma) Manusia

kembali pada dunia dan menyadari bahwa kita cuma setitik embun yang mengalir adalah satu hal yang mungkin akan membuat kita lebih sadar diri.
bukan untuk menjadi yang terbaik di antara yang baik, tapi menjadi yang terindah di antara yang indah akan lebih berkesan untuk orang lain.
taukah kawan, bahwa manusia itu kurang bisa bersyukur atas keberuntungan di dirinya. manusia itu kurang bisa menyadari atas keindahan yang ada di dirinya. bahkan manusia itu kurang bisa berterima kasih pada Tuhannya atas semua karunia yang diberikanNya.
ada kalanya manusia bisa menjadi monster yang jahat, yang serakah, kikir dan berbagai sifat jelek lainnya. tapi tidak jarang pula manusia bisa menjadi malaikat yang dermawan, baik hati, suka menolong dan berbagai sifat baik lainnya.

terkadang untuk membedakan keduanya, manusia harus belajar terlebih dahulu. tidak hanya memandang hanya dari satu perspektif. bukan untuk mencaci dan memuji atas apa yang ada di depan matanya, tapi untuk meresapi dan mendapatkan makna atas semua pelajaran hidupnya.
kita. makhluk hidup. manusia. berakal. beruntung. sewajarnya menjadi panutan untuk manusia lainnya. menjadi contoh yang baik untuk ditiru. bukan menjadi "patung" yang hanya bisa dipajang dan dipuji atau dicemooh hanya dengan sekali lihat.

kita manusia. manusia yang sempurna.

21 September 2010

absurd

ketika saya mempertanyakan tentang masalah dilematis, tidak ada satupun orang yang mungkin bisa merefleksikan imajinasi saya tentang ini.
tentang apa yang saya rasa, tentang apa yang terjadi kepada saya, dan tentang jalan keluar yang bisa menyelesaikan konflik dalam diri saya.
saya cuma manusia biasa yang punya rasa. rasa tentang apapun. saya mampu merasakan tapi saya tidak selalu mampu membacanya.
saya bingung. bingung terhadap kenyataan yang saya rasain. rasanya tidak menyedihkan tapi mampu membuat saya meneteskan airmata yang menurut saya sangat berharga untuk dikeluarkan. rasanya tidak menyenangkan tapi mampu membuat saya sedikit menarik bibir dan menyunggingkan senyuman.
ntah.
saya tidak mengerti.
tapi jujur, saya ga pengen seperti ini. rasanya ga bebas. seperti ada yang mengganjal dan itu cukup menyesakkan saya.
ini namanya blur. absurd.

20 September 2010

Blackberry: Kebutuhan? Tren? Fashion? atau... Gengsi?


siapa yang ga kenal Blackberry? saya yakin ga akan ada yang ngacung ketika pertanyaan ini dicetuskan.
yaap, mobile phone yang lebih akrab disapa BB ini tampaknya udah semakin merajalela dari sabang sampai merauke. ga cuma selebritas atau orang penting aja yang pake BB bahkan anak SD, satpam, officeboy pun udah pake BB.

perkembangan BB ini cukup membuat berbagai perusahaan mobile phone kelabakan. mereka menciptakan inovasi terbaru untuk mempertahankan eksistensinya. bahkan tidak sedikit yang menciptakan mobile phone dengan merk terbaru dan memberikan fasilitas menyerupai BB dengan harga yang cukup rendah.

beberapa waktu yang lalu, saya heran melihat perkembangan BB di Indonesia yang sangat pesat. Smartphone yang satu ini sangat bisa menarik perhatian semua kalangan, ga cuma orang berduit. fasilitas yang disediain di BB memang cukup membuat semua orang merasa butuh, walaupun sebenernya enggak.
apakah ini tren? atau... BB udah jadi salah satu pelengkap fashion era ini?
entahlah. semua orang punya pendapat masing-masing.
saya pernah berbincang dengan seorang teman. dia salah satu korban BB menurut saya.

saya (S) : hai T, udah pake BB sekarang? katanya ga mau pake.
teman (T) : iya nih sekarang gw pake. malu lah kalo enggak.
S : (mengernyitkan dahi) malu?
T : iyalah malu. gila lo.
S : gw ga ganti BB tapi gw ga malu. kenapa malu?
T : semua orang udah pake BB kali kar. kalo ga ganti sendiri ntar dikucilin.
S : (dahi makin melipat sambil ketawa kecil) haha siapa yang mau ngucilin lo, T? lo kata pake BB semua orang bakal mau temenan sama lo apa.
T : (agak sewot) yaa paling enggak kan ada kelebihannya kalo diliat orang.
S : (makin ketawa)

perbincangan saya dengan seorang teman tersebut membuat saya makin penasaran, apakah memang BB memberikan dampak seperti itu?
hmm.. pertanyaan ini semakin menjadi-jadi, ketika saya berkumpul dengan beberapa teman saya, sebut saja A, B dan C, ketiganya adalah pengguna BB. ketika itu, saya yang sedang menyetir mobil, mendengar perbincangan mereka.

A : eh B, lo ganti BB sekarang? warna putih ya?
B : iya. gw ga suka yang warna item, bagusan juga putih.
C : eh tapi bukannya lo baru ganti nokia E71 ya B? masa udah ganti lagi sekarang?
B : yang itu dijual, gw ganti ini sekarang (nunjukin BBnya). semua orang pada pake BB soalnya.
A : eh coba coba liat BB lo! BB gw yang ini trackballnya udah rada rusak deh. kenapa yaa?
C : yaa paling lo keseringan pencet, kekencengan kali mencetnya jadi rasa masuk gitu.
*perbincangan BB makin menjadi*
A : eh kar, lo ga ganti BB?
saya (S) : enggak.
B : ganti aja kar, biar bisa BBMan.
S : belom berminat.
C : emang lo ga pengen ya kar ngeliat semua orang udah pake BB?
S : ga muna sih pengen, tapi belom minat beli.
A : kalo gw jujur aja ganti BB karena pengen loh ngeliat semua orang pada pake BB, lagian sebenernya ada untung juga soalnya bisa BBMan, bla bla bla.
B dan C : (ngangguk-ngangguk)

lagi-lagi saya heran dengan perbincangan tersebut.
saya pikir, BB cuma jadi tren dan fashion, bisa jadi juga pendorong gengsi. ibaratnya malu kalo ga pake BB.
semakin heran lagi ketika BB cuma dijadiin alat pendukung "kegaulan" seseorang. saya kok malah ga suka ya sama orang kayak gitu? hmm yaudalah, hak mereka.

nah satu lagi yang bikin saya makin heran. berdasarkan seorang sumber, sebuah kantor menggunakan BB untuk mengumumkan suatu informasi dan melupakan fasilitas SMS, email, telfon dan menggantinya dengan BBM. demikian pula dengan kebanyakan kantor lainnya.
rupanya efek BB ini semakin menjadi-jadi saja sekarang.
bahkan seseorang rela merogoh "kocek"nya lebih dalam untuk memenuhi (ntah saya menyebutnya apa) kebutuham/ tren/ fashion/ gengsi ini.

sebenarnya tidak ada yang salah dengan BB. smartphone ini memang bisa memudahkan kita dalam segala hal terutama dalam hal perinteraktifan, dan hal ini memang dibutuhkan oleh berbagai pihak tertentu. tapi beberapa alasan atau pandangan orang-orang terhadap BB ini membuat saya cukup terperanjat. haha.

kebutuhan akan BB pada zaman sekarang memang membuat banyak orang memilih menggunakan sesuatu yang efektif dan efisien dan (mungkin) BB adalah jawabannya. saya tidak menyalahkan pencipta BB ataupun para konsumen BB, tentu saja mereka miliki hak atas diri mereka sendiri.
benar begitu bukan?
:)