.SWEET LIKE CANDY, FRESH LIKE MINT, WARM LIKE CHOCOLATE, FUN LIKE COLOUR, VALUABLE LIKE GOLD.


15 October 2011

my choice. my life. my love.

Mungkin pepatah yang bilang kalo -sulit memberikan keputusan ketika seseorang itu lelah untuk bertahan tapi terlalu mencintai untuk melepaskan- itu benar adanya. Sulit untuk berada di tengah-tengah antara yang rasional dan irrasional. Berat untuk menyeimbangkan perasaan dan pikiran.
Yaah.. Itulah hidup. Semuanya butuh keputusan. Selalu ada arti di tiap keputusan. Demikian pula halnya, selalu ada hikmah dibalik penyesalan. Saya selalu percaya dengan kalimat saya yang terakhir. Hikmah dibalik penyesalan.

Malam ini saya memutuskan suatu hal yang mungkin menjadi keputusan berat bagi saya. Cukup banyak hal yang saya pertimbangkan untuk mengambil keputusan ini. Cukup banyak juga hitungan bulan, hari, jam, menit, detik yang saya habiskan untuk memikirkan keputusan ini. Cukup lama juga saya harus menyakiti diri saya sendiri untuk mendapatkan keputusan ini. Cukup. Cukup. Cukup sudah.
Ketika segala usaha yang dilakukan ga cukup untuk bisa mempertahankan. Lalu apa lagi yang harus dikorbankan? Hati? Enggak. Saya ga mau mengorbankan hati saya (lagi). Saya udah bilang cukup.

Saya memiliki komitmen dengan seorang pria. Bukan waktu yang sebentar saya mengenal dia. Cukup lama saya menghabiskan waktu saya dengannya. Sedih ketika lama-kelamaan konflik saya dengannya menjadi konflik laten yang ga pernah ketemu solusinya. Saya tau dia berusaha. Demikian juga halnya dengan saya. Saya berusaha untuk menerima dia apa adanya. Saya pun tau dia berusaha untuk memenuhi apa yang saya inginkan. Tapi.. nyatanya ga semudah itu. Udah lebih dari 1 tahun, kami berada di konflik laten ini, dan hingga detik ini kami pun ga menemukan solusinya. Mungkin perbedaan perspektif dalam melihat apa itu 'perhatian' menjadi pemicunya.
Saya tau hati saya udah terlalu terikat dengannya. Mungkin ikatan itu sudah hampir ikat mati. Saya sendiri bingung kenapa ikatan itu semakin menguat, saya ga pernah bisa menjelaskan ketika orang lain menanyakan itu pada saya. Tapi kerasionalan saya kemudian diuji. Saya mencapai titik kejenuhan saya pada konflik laten itu. Lagi-lagi konflik laten. Saya capek. Jujur saya capek banget. Saya mencoba untuk mengembalikan keirrasionalan saya, tapi ga bisa. Otak saya mungkin juga udah jenuh untuk dipaksa berpikir irrasional.
Sampai akhirnya saya memutuskan untuk stop. Saya ga melanjutkan langkah saya. Saya berhenti di satu titik dimana saya memang harus berhenti.
Sakit. Iya. Rasanya sakit. Sedih. Banget.
But life must go on, right? :)
It's hard to let go. But it's gonna be harder to hold on.
Saya dan dirinya memiliki kehidupan kami masing-masing. Kami punya rencana hidup masing-masing. Bahkan kami sempat memiliki rencana hidup bersama-sama. Tapi lagi-lagi Allah yang menentukan.
 
Forget about the past, it's done. Make yourself a brighter future by focusing on the present - The Notebook

Saya mencoba untuk kembali berdiri, mengangkat kepala saya, menatap lurus ke depan. Biarlah airmata hari ini mengalir dengan derasnya. Lalu saya akan tersenyum keesokan harinya.
 
Hey! Masih ada yang menunggu kamu, kar!
Sesuatu yang akan sangat setia menemani dan menghantuimu!


SKRIPSI!!!!
Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!


15.10.11 | 23.00 | playlist: kisah kita tlah usai - ello | :')

3 comments:

0955fa80-f9ae-11e0-8f0e-000bcdcb2996 said...

wah. sempat kaget juga membaca postingan ini, tapi keputusan tetaplah keputusan, ya kan jo?


saya selalu percaya, wanita baik akan bersanding dengan pria baik. tapi, yang baik selamanya tidak akan bisa menggantikan yang terbaik. mungkin hikmahnya, you are one step closer to see the best man.

anw, pintu sebelah akan selalu terbuka kalo-kalo karjo butuh teman untuk bercerita. semangat.

Anggie Pradani said...

cheer up, karlaaaaaa!!! ayo kita move on dengan sekeripsi :))

karla's dictionary said...

friends are stars who always brighten my darkness and accompany me even it's not beside me, like you.

thanks debby and enji :)

Post a Comment