.SWEET LIKE CANDY, FRESH LIKE MINT, WARM LIKE CHOCOLATE, FUN LIKE COLOUR, VALUABLE LIKE GOLD.


21 April 2012

Salahkah saya?

Kadang saya suka bertanya pada diri saya sendiri.
Salahkah saya memiliki keluarga dengan kondisi berkecukupan?
Salahkah saya menaiki motor atau mobil, sedangkan di luar sana ada ibu atau bapak yang menggowes sepeda bututnya?
Salahkah saya memiliki rumah dan kamar yang luas, sedangkan di luar sana ada ibu atau bapak yang hanya beralaskan tanah dengan dinding kardus sebagai rumahnya?
Salahkah saya duduk di sebuah cafe sambil menikmati secangkir cokelat hangat, sedangkan di luar sana ada anak kecil mengais botol plastik di kotak sampah?
Salahkah saya menenteng tas belanjaan dari sebuah mall, sedangkan di luar sana ada ibu tua yang hanya menggendong tas hasil memulungnya seharian?
Salahkah saya tidur di kamar dengan kasur empuk dan udara sejuk dari kipas angin atau AC di siang hari, sedangkan di luar sana ada sekelompok orang berjualan koran di siang hari yang panas?
Salahkah saya?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul di benak saya. Mengapa Tuhan tidak menciptakan manusia dengan derajat yang sama? Minimal dengan keadaan sosial yang sama. Atau minimal lagi dalam kondisi serendah-rendahnya hidup sederhana.
Mengapa harus ada kata "miskin" di dunia ini?

Kadang saya berpikir, apakah saya seorang perempuan yang baru berusia 21 tahun pantas duduk di sebuah mobil ber-AC, sedangkan di sebelah saya ada seorang bapak tua keriput menaiki sepeda ontelnya. Apakah itu cukup adil?
Jujur, saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri.

Tapi, apa sih yang bisa saya lakukan selain membantu mereka dalam bentuk menyumbang. Paling tidak saya hanya bisa menyisihkan sedikit uang jajan saya untuk diberikan kepada mereka yang memang benar-benar membutuhkan.
Kadang saya berpikir, semua yang saya punya ini adalah rezeki dari Allah. Mereka yang hidup berkekurangan pun pasti memiliki rezekinya sendiri. Tapi kenapa harus ada istilah kaya dan miskin di dunia ini? Kenapa harus ada istilah atas dan bawah di dunia ini? Bukannya semua manusia itu sama di mata Tuhan? Kalau begitu, kenapa manusia harus diciptakan dalam kondisi hidup yang berbeda?

Ah.. pertanyaan itu terlalu sering muncul dalam pikiran saya. Saya iba pada mereka, pada diri saya sendiri juga. Saya belum bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat iba itu menghilang.
Suatu saat saya harus bisa. Harus.

0 comments:

Post a Comment